Cinta Bersemi di Ufuk Timur
Matahari hampir tenggelam kala engkau menyisiri perlahan helaian mahkota
hitam milikmu yang tergerai indah bagai gelombang lava. Terpikat memandangi
tingkah gemulaimu yang mempesona, semburat merah akhirnya muncul di tepi wajahku
hingga meluas ke ujung hidungku yang memanas. Aku masih saja diam, menikmati
mata syahdumu yang menelitiku dengan pancaran sekelam biji kurma. Huh, biji
kurma? Bagaimana bisa aku membandingkan mata seindah itu dengan buah kesukaan
Sang Nabi? Tapi… tidak juga, kurasa mata cantikmu pantas dengan perumpamaan
itu. Karena ketika diriku menerima tatapanmu, seakan-akan rasa lapar dan gersang
di hatiku terkenyangkan oleh netra milikmu.
Lembayung senja tertumpah, memayungi kelopak tubuhmu bagai serpihan kristal
seterang warna surga. Sangat terang sampai-sampai mataku silau tak mampu
melihat dengan sempurna. Sungguh, aku tidak bisa mendambakan apapun pada bibir
ranummu yang menggelora menyebutkan namaku. Hanya namaku. Lantunan verbal yang
meluncur dari hatimu adalah musik paling agung yang pernah kudengar. Kau
tersipu, sama sepertiku. Namun dirimu tak segugup diriku yang menerima
kata-kata sehalus sutra, ucapan yang menjadikan hidupku lebih berharga dari
sebelumnya.
“Aku mencintaimu karena Allah.”
Tidak ada omong kosong dari pengakuan sedamai itu. Aku mempercayainya
meski mataku telah silau oleh kesederhanaanmu yang mewah.
Kau cantik bahkan dengan segala kekuranganmu.
Karena itulah, “Aku pun mencintaimu karena Allah.”
Lalu ketika matahari telah berada di penghujung waktu, air matamu
menjelma menjadi tetesan wewangian kasturi. Mengharumkan seluruh takdirku yang
amis.
Dan esok di Ufuk Timur, kau akan …. Menghancurkan mimpiku dalam sekejap.
Membisu, membeku, melukaiku dengan arah kebahagiaan yang salah.
Tak ada lagi daya yang tersisa.
Mungkin, jiwaku pun akan terkubur bersama ragamu.
Sebab Ufuk Timur telah menenggelamkanmu dengan cahaya-cahaya abadi.
Membungkusmu…
Hingga aku tak mampu lagi
merasankan dirimu.
.
Z.q/ 30.10.2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar