Sabtu, 28 Desember 2013

Lelucon Garing

Terlambat

Namanya Firmansyah Zulaikha Rahman. Kepalanya botak dengan sejumput jambul di tengah kepala persis adek Upin di negeri sono. Anaknya alim, gak suka ngegossip apalagi makan sambil ngomong. Mukanya ganteng, tapi sayang, kutil di ujung hidungnya mengganggu kulit licin di wajahnya. Pesek lagi. Masalah pelik yang sampai sekarang belum dia temukan solusinya hanya kebiasaan dia yang sering terlambat mengikuti mata kuliah. Ini nih salah satu kejadian dia waktu terlambat.
“Zulaikha!”
Firmansyah, lelaki tulen yang dipanggil Zulaikha terlonjak kaget ketika dirinya berusaha mengendap-endap masuk ke dalam kelas, sementara pelajaran sedang berlangsung.
“Eh, iya, Pak. Saya hadir kok.”
“Siapa yang mengizinkan Anda masuk kelas saya?” kata-kata dari sang dosen penuh penekanan, ketegangan, kesuraman dan kegelapan tanpa rembulan.
“Allah, Pak.”
Dengan memasang wajah polos Firmansyah mulai berdiplomasi berlagak ngeustadz. Bravo! Nyatanya sang dosen menelan kembali pertanyaan tersebut.
“Baik kalau begitu. Kenapa Anda masih saja terlambat, eh?”
“I-itu…” Firmansyah menggantungkan kalimatnya sebelum ia melanjutkan. “Su-sudah takdir, Pak.”
“Halah! Alasan saja Anda ini! Paling juga Anda nonton bola sampai subuh, kan?”
“Lha! Itu Bapak tahu, kenapa masih nanya!”
“Zu-laikhaaa!”
“Sudah dong, Pak. Saya, kan, hanya terlambat lima menit.”
“Menit dari hongkong! Anda itu bukan terlambat lima menit! Tapi lima menit lagi kelas sudah berakhir!”
“What’s up Bro Sist!”
Lupakan. Itu hanya keterkejutan palsu. Besok paling dia terlambat lagi tuh.
 .

 Beneran garing ya? Hahah.

Purple Line

Cinta Bersemi di Ufuk Timur

Matahari hampir tenggelam kala engkau menyisiri perlahan helaian mahkota hitam milikmu yang tergerai indah bagai gelombang lava. Terpikat memandangi tingkah gemulaimu yang mempesona, semburat merah akhirnya muncul di tepi wajahku hingga meluas ke ujung hidungku yang memanas. Aku masih saja diam, menikmati mata syahdumu yang menelitiku dengan pancaran sekelam biji kurma. Huh, biji kurma? Bagaimana bisa aku membandingkan mata seindah itu dengan buah kesukaan Sang Nabi? Tapi… tidak juga, kurasa mata cantikmu pantas dengan perumpamaan itu. Karena ketika diriku menerima tatapanmu, seakan-akan rasa lapar dan gersang di hatiku terkenyangkan oleh netra milikmu.
Lembayung senja tertumpah, memayungi kelopak tubuhmu bagai serpihan kristal seterang warna surga. Sangat terang sampai-sampai mataku silau tak mampu melihat dengan sempurna. Sungguh, aku tidak bisa mendambakan apapun pada bibir ranummu yang menggelora menyebutkan namaku. Hanya namaku. Lantunan verbal yang meluncur dari hatimu adalah musik paling agung yang pernah kudengar. Kau tersipu, sama sepertiku. Namun dirimu tak segugup diriku yang menerima kata-kata sehalus sutra, ucapan yang menjadikan hidupku lebih berharga dari sebelumnya.
“Aku mencintaimu karena Allah.”
Tidak ada omong kosong dari pengakuan sedamai itu. Aku mempercayainya meski mataku telah silau oleh kesederhanaanmu yang mewah.
Kau cantik bahkan dengan segala kekuranganmu.
Karena itulah, “Aku pun mencintaimu karena Allah.”
Lalu ketika matahari telah berada di penghujung waktu, air matamu menjelma menjadi tetesan wewangian kasturi. Mengharumkan seluruh takdirku yang amis.
Dan esok di Ufuk Timur, kau akan …. Menghancurkan mimpiku dalam sekejap.
Membisu, membeku, melukaiku dengan arah kebahagiaan yang salah.
Tak ada lagi daya yang tersisa.  Mungkin, jiwaku pun akan terkubur bersama ragamu.
Sebab Ufuk Timur telah menenggelamkanmu dengan cahaya-cahaya abadi.
Membungkusmu…
 Hingga aku tak mampu lagi merasankan dirimu.
.
Z.q/ 30.10.2013.


Story Line

Mencoba berbagi, dari semua yang disimpan dan dijalani, paling tidak bisa membuat hati saya senang. Bukan untuk menjual masalah privasi saya yang baik ataupun buruk. Cuma sekedar belajar menjadi penulis, menampilkan hasil pikiran saya yang terkadang konyol dan melankolis. Atau mungkin menyeramkan dan menghibur. Menceritakan banyak hal mengenai semua hobi, kesukaan dan orang-orang terdekat.
.
Introvert, memang. Tapi yang namanya manusia toh tak bisa hidup sendiri, 'kan? Jadi terkadang saya bisa berteman meskipun menjadikan saya agak Out Of Character.
.
Januari 2014 nanti akan menjadi tahun pertama saya untuk menjadi seseorang yang lebih terbuka, walaupun hanya di dalam pandora internet. Semangat!