Terlambat
Namanya Firmansyah Zulaikha Rahman. Kepalanya botak dengan
sejumput jambul di tengah kepala persis adek Upin di negeri sono. Anaknya alim,
gak suka ngegossip apalagi makan sambil ngomong. Mukanya ganteng, tapi sayang,
kutil di ujung hidungnya mengganggu kulit licin di wajahnya. Pesek lagi.
Masalah pelik yang sampai sekarang belum dia temukan solusinya hanya kebiasaan
dia yang sering terlambat mengikuti mata kuliah. Ini nih salah satu kejadian
dia waktu terlambat.
“Zulaikha!”
Firmansyah, lelaki tulen yang dipanggil Zulaikha terlonjak
kaget ketika dirinya berusaha mengendap-endap masuk ke dalam kelas, sementara
pelajaran sedang berlangsung.
“Eh, iya, Pak. Saya hadir kok.”
“Siapa yang mengizinkan Anda masuk kelas saya?” kata-kata dari
sang dosen penuh penekanan, ketegangan, kesuraman dan kegelapan tanpa rembulan.
“Allah, Pak.”
Dengan memasang wajah polos Firmansyah mulai berdiplomasi
berlagak ngeustadz. Bravo! Nyatanya sang dosen menelan kembali pertanyaan
tersebut.
“Baik kalau begitu. Kenapa Anda masih saja terlambat, eh?”
“I-itu…” Firmansyah menggantungkan kalimatnya sebelum ia
melanjutkan. “Su-sudah takdir, Pak.”
“Halah! Alasan saja Anda ini! Paling juga Anda nonton bola
sampai subuh, kan?”
“Lha! Itu Bapak tahu, kenapa masih nanya!”
“Zu-laikhaaa!”
“Sudah dong, Pak. Saya, kan, hanya terlambat lima menit.”
“Menit dari hongkong! Anda itu bukan terlambat lima menit!
Tapi lima menit lagi kelas sudah berakhir!”
“What’s up Bro Sist!”
Lupakan. Itu hanya keterkejutan palsu. Besok paling dia terlambat
lagi tuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar